JAKARTA – Diet Ketogenik atau diet keto, yang memangkas asupan karbohidrat hingga batas minimum dan menggantinya dengan lemak dalam jumlah tinggi, masih menjadi salah satu metode penurunan berat badan paling fenomenal. Mekanisme diet ini memaksa tubuh memasuki fase ketosis, di mana hati akan memecah lemak menjadi keton untuk digunakan sebagai energi pengganti glukosa.
Bagi penderita epilepsi dan obesitas morbid, metode ini memang terbukti secara klinis memberikan hasil yang signifikan. Namun, ahli endokrinologi memperingatkan masyarakat awam akan bahaya laten dari penerapan diet keto tanpa pengawasan medis. Asupan lemak jenuh berlebih dari konsumsi daging merah dan mentega setiap hari secara perlahan dapat memicu lonjakan kadar kolesterol jahat (LDL) yang membahayakan kesehatan jantung.
Lebih jauh, absennya asupan sayur dan buah dalam porsi ideal berisiko memicu konstipasi kronis dan kekurangan vitamin. Para ahli merekomendasikan agar diet ekstrem ini hanya dilakukan dalam jangka waktu pendek sebagai intervensi awal, sebelum akhirnya bertransisi kembali ke pola diet seimbang yang berfokus pada keragaman nutrisi dan keberlanjutan gaya hidup.